Senin, 09 Januari 2012

RANGKUMAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN

BAB I
MEMAHAMI SOSIOLOGI PENDIDIKAN
A.      Kajian Sosiologi Pendidikan
Kajian dan analisis sosiologi terhadap pendidikan dirintis oleh Durkheim dan Weber dan dilanjutkan para murid mereka. Pengembangan pendidikan yang berparadigma sosial dimulai oleh tokoh – tokoh dari dunia pendidikan dari Amerika Serikat dan juga dari Negara Eropa. Di Indonesia sendiri kajian sosiologi dan sosiologi pendidikan sudah cukup lama diperkenalkan yaitu melalui mata kuliah pada mahasiswa kependidikan di perguruan tinggi dengan tujuan agar mahasiswa mempunyai visi dan misi serta kemampuan melihat proses pendidikan secara sosiologis.
Kajian dan analisis terhadap keterkaitan fenomena sosial dalam proses pendidikan penting untuk diketahui, di informasikan dan digunakan dalam pengambilan keputusan, kebijakan maupun strategi dalam praktik pendidikan terkait dengan fungsi sosiologi pendidikan yaitu menyediakan visi, pemahaman dan kemampuan terhadap proses pendidikan, dan kemampuan bekerja dalam pendidikan dengan memanfaatkan dinamika struktural dan proses sosial terkait dengan proses pendidikan, dikarenakan kehidupan sosial baik dalam maupun luar lembaga pendidikan mempunyai andil yang besar terhadap proses dan hasil-hasil pendidikan.
Adanya sosiologi pendidikan bisa membantu memberi bahan yang berharga dalam rangka melihat proses pendidikan dengan berbagai masalah dan implikasi yang di timbulkan. Dalam hal ini sosiologi membantu meningkatkan kepekaan dalam melihat nilai-nilai melihat nilai-nilai, institusi, budaya, dan kecenderungan yang ada dimasyarakat. Sosiologi pendidikan juga memberi jalan kepekaan untuk melihat nilai-nilai, institusi, budaya, dan kecenderungan lainya yang terjadi didalam dunia pendidikan.  Selain itu, sosiologi pendidikan dapat membantu memahami perencanaan, proses implementasi, dan implikasi penerapan program manapun kebijakan pendidikan tertentu.
Pengembangan pendidikan seharusnya dilandasi konsep dan teori sosial, alasannya; pertama pendidikan mau tidak mau harus bisa menyiapkan sebuah generasi yang siap memasuki masyarakat yang berubah menuju masyarakat berbasis pengetahuan itu. Kedua, praktisi pendidikan dapat merumuskan cara menetapkan orientasi yang relevan dengan dunia yangberubah di satu pihak, namun di lain pihak dunia pendidikan tidak mengalami distorsi dan disorientasi. Dan alasan yang ketiga adalah pendidikan memerlukan perangkat pisau analisa sosiologis, karena ia bukan sekedar mesin atau tekhnologi pembelajaran ansich. Dengan bantuan perspektif sosiologis, sekolah dan guru akan dapat memahami lingkungan sosial, proses-proses sosial seperti terjadinya konflik, integrasi, pelapisan dan proses sosialisasi. Sosiologi akan membantu meningkatkan kepekaan budaya sehingga memungkinkan praktisi pendidikan mampu mengelola pembelajaran berbasis multikultural, melakukan antisipasi terhadap dampak budaya global dan arus informasi yang tanpa batas.

B.       Perspektif Sosiologi Pendidikan
Pada sosiologi pendidikan terdapat berbagai perspektif, diantaranya adalah perspektif yang berdimensi kajian makro (kajian pendekatan obyektif) dan perspektif yang berdimensi kajian mikro (kajian pendekatan subektif). Dalam mengkaji masalah pendidikan, sosiologi yang berorientasi pada makro akan melihat institusi, kelompok, struktur maupun budaya pendidikan. Teori - teori sosial yang berada pada kajian makro seperti teori structural fungsional, struktur konflik, Marxian, dan teori dependencia, cenderung melihat bagaimana pendidikan diorganisasikan, institusi pendidikan dibentuk, dan kultur sekolah disosialisasikan dan sistem pendidikan dikembangkan.
Kemajun dan kemunduran dalam pendidikan dicari penjelasanya dari balik sistem atau struktur sekolah maupun sistem atau struktur masyarakatnya. Kajian ini melihat bagaimana sistem pendidikan dikembangkan, siapa yang diuntungkan oleh sistem itu, apakah sistem pendidikan yang dikembangkan bisa menciptakan rasa keadilan.
Sedangkan kajian yang berorientasi mikro cenderung menggunakan perspektif fenomenologis, dengan penekanan pada upaya memahami apa yang terjadi dibalik fenomena, data, informasi, atau realitas kehidupan individu. Sosiologi pendidikan yang memilih ranah subyektif ini mereka mencoba memahami realitas pendidikan tidak dari luar realitas indivdu, melainkan dari ranah subyektif, pada tataran individu,  dari tataran konstruk, presepsi, penafsiran dan pemaknaan individu terhadap dunia pendidikan. Perspektif ini lebih menakankan pada upaya memahami dunia makna atau penafsiran yang diberikan aktor atau individu terhadap dunia pendidikan, makna atau penafsiran yang diberikan oleh pejabat pengelola pendidikan, kepala sekolah, guru, orangtua siswa, maupun kalangan ekspert terhadap masalah-masalah pendidikan. Teori – teori sosial yang digunakan pada perspektif mikro antara lain perspektif konstruksionalis, interaksionisme simbolik, fenomenologi, dramaturgi, etnometodologi, dan sejumlah pemikir yang mengikuti mazhab frankfrut, feminisme, dan posmodernisme.

BAB II
KAJIAN TEORETIS DALAM SOSIOLOGI PENDIDIKAN
A.      Pendidikan dalam Teori dan Pandangan Tokoh Fungsionalis
Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat berdampak pada lembaga – lembaga pendidikan sehingga memunculkan ketidaksamaan dalam sistem pendidikan formal. Ketidaksamaan tersebut oleh sebagian orang dianggap penyebabnya adalah perbedaan individu. Namun, penelitian membuktikan bahwa ada penyebab lain yang terlibat di dalamnya. Untuk dapat menganalisis hal tersebut, terdapat beberapa teori sosiologi yang berusaha menerangkan fenomena tersebut, diantaranya teori yang berada pada paradigma fakta sosial, seperti teori fungsional dan teori konflik.
Menurut teori struktural fungsional, masyarakat sebagai suatu sistem memiliki struktur yang terdiri dari banyak lembaga, dimana masing-masing lembaga memiliki kompleksitas yang berbeda-beda, hal ini ada pada setiap masyarakat. Misalnya, lembaga sekolah, lembaga keagamaan, lembaga keluarga, lembaga politik, lembaga ekonomi dan lain sebagainya.
Murphy (1979) menunjukan empat tema sebagaimana diterapkan dalam teori fungsionalis sebagaimana diterapkan dalam sosiologi pendidikan, yaitu antara lain:
1.    Ada peran pendidikan formal dalam evolusi masyarakat modern dari partikularisme ke universalisme dan dari askripsi ke prestasi dan juga peran sekolah dalam menyeleksi calon yang lebih kapabel untuk peran – peran dewasa tertentu.
2.    Menyelidiki disfungsi – disfungsi sistem pndidikan formal untuk banyak golongan dalam meneruskan sesuatu bentuk ketidaksamaan.
3.    Perdebatan mengenai pengaruh biologis atau biopsikologis yang bertentangan dengan tema sosial atau lingkungan dalam formulasi IQ dan mencangkup problema – problema yang secara teoritis terhadap yang operasional.
4.    Sebagian besar bersifat empiris, yaitu studi dari otonomi fungsional yang relatif  dari bagian – bagian suatu sistem sosial dan memusatkan  pada kesanggupan pendidikan formal, sebagai yang bertentangan dengan hal – hal yang lainnya seperti tingkat sosial, mengenai ketidaksamaan, dan sebagainya.

B.       Pendidikan dalam Pandangan Tokoh Fungsionalis
1.    Emile Durkheim
Menurutnya, pendidikan adalah bagian yang penting untuk menjaga keberlangsungan masyarakat. Durkheim (1977) menggambarkan betapa generasi muda memerlukan bantuan pendidikan untuk mempersiapkan diri, memasuki kehidupan ditengah masyarakat yang memiliki tata nilai tertentu. Pendidikan dipersepsikan Durkheim sebagai suatu kesatuan utuh dari masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan sebagai dasar masyarakat menentukan proses alokasi dan distribusi sumber-sumber perubahan. Baginya pendidikan juga dipandang sebagai “baby-sitting” yang bertugas agar warga masyarkat tidak berperilaku menyimpang. Pendidikan menurut Durkheim harus bisa memaksimalkan bakat siswa dan juga harus didekatkan pada masyarakat.

2.    Talcott Parsons
Berikut beberapa pendekatan fungsional Parsons, yaitu:
a.       Sekolah sebagai Sarana Sosialisasi Utama
Dua fungsi sekolah menurut Parsons, yaitu:
1.      Mengarahkan anak dari orientasi askriptif ke orientasi prestasi;
2.      Alokasi seleksi atau diferensial ke peran – peran dewasa yang diberi penghargaan (hadiah) yang tidak sama.
Sekolah menurut Parsons merupakan struktur utama untuk menanamkan sistem nilai umum di masyarakat, selama bertahun – tahun untuk mengarahkan para individu kea rah peran – peran dewasa, kmpeten dan memiliki motivasi yang wajar.
b.      Partikularisme-Universalisme dan Askripsi-Prestasi
Sekolah menurut Parsons berfungsi untuk mensosialisasikan anak dari orientasi – orientasi partikularisme dan askripsi yang biasa dialaminya di rumah ke orientasi – orientasi universal dan prestasi yang umumnya lebih diperlukan mereka kelak dikemudian hari.
c.       Seleksi dan Alokasi
Seleksi dan alokasi yang dilakukan di sekolah berfungsi untuk mempersiapkan para siswa untuk dunia pekerjaan. Oleh sebab itu, fungsi primer sekolah adalah menghantarkan siswa – siswa yang mempunyai kemampuan dan motivasi yang lebih untuk lebih berhasil dalam peran dewasa yang lebih penting dan lebih sulit di masyarakat. 
d.      Kesamaan Kesempatan 
Parsons menyadari sebelumnya bahwa proses-proses selektif sudah berlangsung pada sosialisasi di sekolah. Sehingga, Tidak semua siswa yang diberi kesempatan yang sama akan berhasil sama pula.

3.    Robert K. Merton
a.       Fungsi dan Disfungsi Sekolah
Menurut Merton, konsep fungsi sendiri mencangkup sisi pandangan dari pengamat dan tidak perlu dari segi pandangan dari peserta. Fungsi sekolah bisa saja hanya untuk golongan elit, sedangkan untuk golongan lain adalah disfungsi atau berfungsi negatif. Sasaran pendidikan seperti mendorong mobilitas yang maksimum, kemudahan memperoleh peran dan lain-lain, tidaklah dapat dijangkau oleh semua masyarakat. Merton juga berpendapat bahwa lembaga pendidikan bukanlah organisasi yang esensial untuk selalu dapat memberi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.    
b.      Fungsi Manifes dan Fungsi Laten
Fungsi Manifes adalah akibat obyektif yang menyumbang pada perubahan atau adaptasi dari sistem yang ada. Misalnya, pengajaran kognitif, reproduksi kultural, seleksi dan alokasi produksi kultural, difusi dan mobilitas sosial. Hal tersebut bisa saja memiliki aspek negative, namun dianggap manifest sebab fungsi ini bersifat terbuka dan diakui oleh publik atau masyarakat luas.
Fungsi laten adalah fungsi – fungsi yang tidak disengaja maupun yang diakui. Fungsi ini bersifat tertutup dan tidak sengaja dilakukan dalam sistem yang dijalankan. Fungsi laten antara lain adalah kontrol sosial, fungsi pemeliharaan, melegistimasi, pemeliharaan tradisi – tradisi subgroup, beserta peningkatan analisis kritis dari masyarakat.

C.       Pendidikan dalam Teori dan Tokoh Konstruksionis
Dalam pendidikan konstruktivistik pembelajaran dipandang sebagai proses yang dikendalikan sendiri (self regulated) oleh siswa. Pada perspektif ini, menekankan pada pembelajaran kolaboratif, sehingga proses pembelajarannya dilakukan bersama – sama (sosial process). Menurut pandangan konstruktivisme, belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta melainkan suatu proses pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian baru.
Pembelajaran dalam paradigm konstruktivis menjadikan siswa aktif dan menentukan apa yang harus dipikirkan dan dipelajari. Fokusnya dalam hal ini diarahkan kepada cara bagaimana siswa mengkonstruk makna tentang kehidupan dan dunianya.

D.      Pendidikan dalam Pandangan Konstruksionis
1.    Max Weber
a.       Pendidikan Merupakan Variabel Kelas atau Status
Menurutnya, pengetahuan dan keterampilan yang didapat seseorang melalui pedidikan di sekolah dapat mempertinggi kemampuan pemasaran didunia ekonomi yang akan mengantarkanya pada posisi kelas tinggi. Sebagai suatu variable status, maka pendidikan mengarah ke suatu gaya hidup dan pola konsumtif yang berbeda dengan golongan lain (kelas buruh), membuat golongan pendidikan ini menjadi ekseklusif dan monopoli suatu gaya hidup tertentu dan membuat batas – batas dari golongan lain tetap berada di luar golongan ini.

b.      Peran Sekolah
Weber beranggapan bahwa peran sekolah adalah meneruskan perbedaan – perbedaan status dan gaya hidup golongan berpendidikan. Paham ini juga beranggapan bahwa lembaga pendidikan dikuasai oleh kaum elit dan digunakannya untuk mengadakan batas – batas dari golongan lain untuk kepentingan kelasnya.

2.    Peter L. Berger dan Thomas Luckman
Peter L. Berger dan Thomas Luckman berangkat dari premis yang menyatakan bahwa manusia mengkonstruk realitas sosial meskipun melalui proses subyektif namun dapat berusaha menjadi obyektif. Menurut mereka, masyarakat termasuk didalamnya dunia pendidikan harus bisa dihadapi agar tidak menjadi constraining dan penekan kebebasan. Oleh karena itu didalam institusi pendidikan masyarakat jangan hanya dijadikan sebagai unsur dan bagian “internal” subyektivitas kita, tetapi juga tempatkan sebagai bagian atau  unsur  “eksternal” kepribadian atau subyektivitas kita. Bukan hanya masyarakat ada dan menekan serta menjadi constrain dalam diri kita, namun diri kita harus ada dan membentuk masyarakat.

3.    Piere Bourdieu
Kajian dari Bourdieu berkaitan dengan sturktur dan modal sosial yang lalu memasuki persoalan reproduksi sosial. Bourdieu sendiri lebih fokus pada dikotomi antara realitas objektif dengan subjektif, yang kemudian dibawa memasuki kajian antara struktur dan agensi. Kajian tersebut dibangun berdasarkan konsep tentang konsep habitus, field dan modal budaya. Habitus bermuatan tentang pengalaman masa lalu, disimpan dalam bentuk presepsi, pemikiran dan tindakan.
Habitus digunakan untuk membangun presepsi pemikiran dan tindakan saat ini, atau diruang waktu tertentu. Jika habitus sudah diwujudkan menjadi dan inilah yang disebut dengan lapangan (field) yaitu sistem struktur dari relasi  sosial antara ranah mikro (subyektif) dengan makro (obyektif) yang wujudnya bisa menjadi seni, huku, industri, ekonomi dan lain-lain. Bourdieu (Tilaar, 2007) mengungkapkan habitus muncul dalam beberapa bentuk seperti:
a.                   Kecenderungan empiris untuk bertindak, misalnya dalam memilih gaya hidup;
b.                   Motivasi atau preferensi, citarasa dan emosi;
c.                   Perilaku yang menjelma menjadi kepribadian;
d.                  Tantangan dunia;
e.                   Ketrampilan dan kemampuan sosial praktis; dan
f.                    Aspirasi yang berkaitan dengan perubahan hidup.
Konsep tentang habitus, field, dan modal budaya dikembangkan berdasar asumsi bahwa struktur objektif menentukan probabilitas seseorang, melalui mekanisme habitus, yang dalam hal ini individu menginternalisasi struktur disekitarnya. Bourdieu menggunakan konsep modal budaya dalam rangka mengeksplorasi perbedaan outcome atau prestasi siswa dari berbagai kelas yang berbeda dalam sistem pendidikan di Perancis.
Berdasar struktur objektif, siswa yang berasal dari kelas menengah memiliki kesempatan lebih baik untuk meraih sukses dan sebaliknya, siswa yang berasal dari kelas bawah lebih kecil untuk meraih peluang sukses, karena terasing dari budaya dominan.


1 komentar:

zulkifli ijul mengatakan...

tanks artikelnya sangat membantu

Poskan Komentar

 
;